Cerita kecil. Dunia penuh warna.Buku mewarnai PDF siap cetak

Pengembara antardunia

Nubo

Nubo menyusuri jalur luar biasa Arus Biru. Tiga bintang berkilau di wajahnya, kopernya menyimpan suvenir, dan buku catatannya dipenuhi pertanyaan. Terkadang sebuah ombak, trem, atau pintu biasa sudah cukup untuk memulai perjalanan baru.

  • Mengumpulkan kenangan
  • Punya banyak pertanyaan
  • Menjelajahi Arus Biru
Nubo, berlempeng pucat dan berbintang di wajahnya, menyirami tanaman di luar rumahnya di tepi laut.
Taman menghadap dunia-dunia lain

TAMBAHKAN WARNA PADA CERITA

Buku mewarnai Nubo

Semua buku mewarnai

40 HALAMAN · PDF

Nubo dan Keajaiban Dunia

Kemasi koper bersama Nubo dan mulailah berkeliling dunia. Warnai lentera di Hoi An, pizza di Roma, fiord Norwegia, dan ombak Nazaré. Sebanyak 40 halaman ini memadukan tempat terkenal dengan penemuan kecil, pertemuan, dan kenang-kenangan perjalanan.

13 · Edisi bahasa€4,99

Petualangan bersama

Buku-buku mewarnai ini mempertemukan beberapa tokoh, termasuk Nubo.

40 HALAMAN · PDF

Nubo dan Fira: Keajaiban Polandia

Jelajahi Polandia bersama Nubo dan Fira. Berangkatlah dari Lapangan Kastel Warsawa menuju lokakarya kue jahe di Toruń dan naga Kraków, lalu ke danau Mazury, Pegunungan Tatra, dan sulaman Kaszuby. Sebanyak 40 halaman ini menghadirkan tempat, alam, tradisi, dan ide untuk menemukannya bersama.

13 · Edisi bahasa€4,99

40 HALAMAN · PDF

Tiga Sahabat dan Rumah yang Mustahil

Fira, Nubo, dan Orumi membangun rumah bersama, masing-masing dengan gagasan berbeda tentang wujudnya. Ide Orumi mengangkat atap, bantal melayang di udara, dan ranting menemukan jalan melewati rumah. Warnai 40 adegan saat ketiga sahabat memberi ruang untuk satu sama lain, dengan beberapa kejutan di sepanjang jalan.

13 · Edisi bahasa€4,99

DARI CERITA DESTINAT

Setiap dunia
punya awal.

Tubuhnya kecil dan kekar, dan ia sulit tertukar dengan siapa pun. Tubuhnya tertutup lempeng pucat membulat yang disambung jaringan gelap dan lentur. Di antaranya terlihat warna merah, sedikit hijau, dan cokelat seperti kayu tua. Semuanya tersusun begitu pas, seolah setiap bagian sudah tahu tempatnya sejak awal. Lempeng-lempeng ini adalah pelindung alaminya. Semuanya tumbuh bersamanya dan mengingat lebih dari satu kali jatuh dari papan selancar.

Di atas kepala Nubo melengkung jambul unik, seperti ombak yang tertahan sesaat sebelum pecah. Ketika merasakan sesuatu yang luar biasa, ia memiringkan kepala dan jambulnya sedikit bergetar. Tiga bintang terang berkilau di permukaan wajahnya yang hitam dan halus. Bintang terkecil biasanya menyala lebih dulu saat ada hal yang membuatnya geli. Ketika Nubo berpikir keras, cahayanya meredup lembut. Teman-temannya sudah belajar membaca suasana hatinya sebelum ia berkata-kata.

Lama-kelamaan, ia menamai jalur-jalur aneh ini Arus Biru. Jalurnya muncul di berbagai tempat: di air, di antara awan, dan kadang di balik pintu yang sangat biasa. Jalur itu bisa membawamu ke dunia jauh, tetapi sulit menebak kapan akan terbuka lagi. Karena itu Nubo membuat catatan, menggambar penanda jalan, dan memeriksa jalan pulang dengan cermat. Terkadang pengamatannya terhenti karena ia baru melihat makhluk berkaki sangat menarik.

Menunggu adalah hal tersulit baginya. Jika sesuatu yang menarik muncul di balik tikungan, kakinya melangkah sendiri. Namun ia sedang belajar menoleh ke belakang, terutama saat bepergian dengan teman yang membutuhkan lebih banyak waktu. Jika temannya takut, Nubo duduk di sampingnya selama yang dibutuhkan. Pantai baru bisa menunggu sebentar. Nubo masih ingat betul betapa lama ia duduk di papan sebelum mendekati pantai asing pertamanya.

Lebih banyak dari cerita ini

Nubo suka menatap langit sampai seseorang mengingatkannya bahwa ada dunia di bawah kakinya juga. Lalu ia melihat ke bawah dan biasanya menemukan alasan baru untuk pergi. Kadang sebuah jalan setapak yang menghilang di balik batu. Kadang sebuah kerang yang bunyinya berbeda dari yang lain. Dan kadang sebuah trem yang ia naiki hanya karena ingin tahu ke mana orang-orang berkoper itu pergi.

Nubo bercerita tentang dunia jauh tempat Neptunus bisa terlihat. Ia mengingat air gelap, tepian bercahaya, dan angin yang berdengung melewati celah batu. Ketika mencoba menunjukkan dunia itu di peta, jarinya selalu berhenti di antara titik-titik yang ditandai. Akhirnya ia mengangkat bahu. Tampaknya pembuat petanya belum pernah sampai ke sana.

Di rumah, Nubo belajar bepergian dari ombak. Ia bisa berjam-jam mengamati air mengalir mengitari rintangan lalu kembali ke tempat yang baru saja ditinggalkan. Kemudian ia membuat papan selancar pertamanya. Sedikit terlalu lebar, lebih berat di satu sisi, dan sangat sulit diajak berbelok. Nubo memperbaikinya lagi dan lagi, sambil menemukan bahwa beberapa solusi justru lebih mudah muncul saat kepalanya basah.

Papan itulah yang membawanya dalam perjalanan besar pertama. Suatu malam ia melihat garis cahaya tipis di air, meskipun awan tebal menggantung di atas teluk. Garis itu bergerak melawan arus. Nubo mengikutinya hingga ke lengkungan batu tempat ia biasa beristirahat setelah berselancar. Kali ini, di seberang lengkungan, ia melihat pantai yang asing. Batu-batu merah tergeletak di pasir, dan dua bulan bersinar di atasnya.

Sesaat ia duduk diam sekali di papannya. Lalu ia mendayung hati-hati mendekat. Ia menyentuh pasir, mengambil batu, dan menyimpannya sebagai kenang-kenangan. Sebelum kembali melewati lengkungan itu, ia lama mengamati langit yang asing. Pagi berikutnya ia mulai mencari garis cahaya serupa. Ia sadar telah menemukan sesuatu yang tak mungkin lagi ia abaikan.

Bola bercahaya di perutnya membantu perjalanan Nubo. Di dalamnya, titik-titik kecil berputar seperti galaksi dalam kaca. Ketika Arus Biru bergerak di dekatnya, titik-titik itu membentuk pola baru. Nubo mencoba membaca pola tersebut dengan membandingkannya dengan catatan di bukunya. Ia juga bisa salah. Pernah ia yakin menemukan jalan menuju samudra, tetapi ternyata sampai di lemari penuh kuas. Sampai sekarang ia bertanya-tanya apakah salah membaca pola atau hanya kurang sabar melihat ke balik rak terakhir.

Kepala Nubo penuh ide bagus dan kopernya penuh benda yang kegunaannya tak selalu bisa ia jelaskan. Ia membawa batu halus dari perjalanan pertama, kerang, beberapa tiket, dan sketsa tempat yang ingin dikunjunginya lagi. Ia bisa melihat kemiripan rasi bintang dengan pola jalan. Ia juga bisa menghabiskan setengah hari mencari buku catatan yang sejak pagi terselip di bawah lengannya.

Perjalanannya juga membawa Nubo ke Bumi. Ia jatuh cinta pada ombak, tetapi sama lamanya mengamati toko roti, eskalator, dan orang-orang yang menyiram bunga di balkon. Ia masih tidak mengerti mengapa kerang yang indah harus disimpan di laci, atau mengapa harus meninggalkan pantai jika masih bisa tinggal sehari lagi. Ia bertanya tentang segalanya. Terkadang sebuah jawaban membawanya ke tempat baru lebih cepat daripada Arus Biru.

Kini Nubo mengajakmu ikut bepergian. Petualangannya menjangkau planet asing dan kota yang dikenal, laut bergelora, serta tempat yang paling enak didatangi sambil memegang pensil. Ia sudah punya banyak pertanyaan dan beberapa ide yang dicatat dengan teliti. Mungkin buku catatannya kembali tertinggal entah di mana. Tetapi kopernya menunggu di dekat pintu, dan bintang terkecil di wajahnya mulai bersinar lebih terang.

LEBIH BANYAK CERITA UNTUK DIJELAJAHI

Siapa yang akan kamu temui berikutnya?

Semua tokoh